Pusat DOD, Itik / bebek tervaksin flu burung, Telur Asin, dan Mesin Tetas di Tangerang, Banten dan Jakarta
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Rabu, 24 Februari 2016
Minggu, 03 Januari 2016
Kedatangan tamu bule dari Global TV
Belakangan ini nomor saya sering sekali berdering, banyak panggilan
masuk yang nomornya tidak dikenal. Meski demikian, saya sadar diri bahwa
nomor ini adalah nomor terbuka dan nomor bisnis, siapa saja bisa
menemukan lewat dukun modern bernama mbah google. Dan lewat terawangan
si mbah google, seorang staf sebuah PH menemukan nomor saya.
“Met siang pak yunus, saya tyo dari global tv, bapak yang ngelola peternakan bebek? Kami ingin syuting di tempat bapak?”
Suara di seberang sana memulai percakapan dan saya pun seperti terkesima.
Tanpa banyak kata langsung mengiyakan, “Bisa”.
Bagi saya permintaan mereka adalah sebuah penghargaan bagi saya dan peternak yang saya naungi. Juga sebuah kepercayaan untuk mengangkat apa yang sudah kami lakukan. Dan pastinya promosi gratis untuk bisa dilihat banyak orang.
Singkat cerita, sabtu tanggal 26 Desember 2015, saya kedatangan tamu. Kedatangan pertama ini untuk survei lokasi. Lokasi mana saja yang bagus untuk pengambilan gambar. Hasilnya ada empat lokasi yang akan dijadikan tempat syuting.
Nah, saya bertanya ke mereka untuk program apa syuting di tempat saya? Ternyata saya keliru, saya kira dokumenter. Dengan baik hati mereka menjelaskan bahwa Global TV punya program baru, judulnya Turis Rempong. mereka juga mengatakan bahwa tempat saya adalah lokasi pertama dan syuting perdana. Walah, merasa terhormat sudah dipilih jadi yang pertamax.
Hari H
Akhirnya hari yang disepakati, senin, 28 Desember 2015 datang juga. Meski saya cukup kaget, mereka datang pagi sekali, jam tujuh pagi sudah stand by di sepatan. Saya kira jam delapanan mereka baru nyampe.
Langsung ke lokasi pertama, persawahan tak jauh dari balai desa Sukadiri. Wah yang nunggu sudah banyak, harap maklum sebelumnya tidak pernah ada syuting di sini. Sampai ibu-ibu lupa masak. Scene pertama ini ceritanya bule nyasar.

Lokasi kedua di kandang penampungan. Letaknya di desa pekayon, tidak jauh dari lokasi pertama. Sama seperti di lokasi pertama, penonton melimpah cuy. Lagi-lagi para ibu dan abg bereput selfie sama si bule. Di lokasi kedua ini, bulenya belajar cara merawat bebek.

Lokasi ketiga jaraknya lumayan jauh dari lokasi pertama, berada di kampung Pabuaran Ds. Mekar Kondang. Di tempat ketiga ini penontonnya jauh lebih membludak, bahkan ibu-ibunya sudah nunggu dari jam 1 siang, padahal crew datang jam 5 kurang dikit. Di lokasi ketiga ini, si bule belajar membuat telur asin.
Akhirnya lokasi terakhir, mengambil tempat di rumah paman saya. Berbeda dengan tempat-tempat sebelumnya, tidak ada penonton yang membludak, soalnya tempatnya berjarak dengan pemukiman, dan hanya keluarga besar saja yang hadir. Di lokasi ini, si bule belajar masak dengan bibi saya. Menunya hot: goreng bebek sambal nanas.
Dan syuting pun berakhir tepat jam 9 malam. Lama juga yah?
Oh yah, si bulenya belum dikenalin. Berikut foto si bule yang bikin emak-emak pada antusias dan gak mau ngalah sama abg-abg buat selfie

Namanya Ricardo biasa dipanggil Rico, aseli dari Belanda. Lima bulan sudah tinggal di Indonesia. Sayangnya sudah menikah…
Btw saksikan di Global TV hari selasa 19 Januari 2016, jamnya menyusul
sumber: https://penayunus.wordpress.com/2015/12/30/kedatangan-tamu-bule-dari-global-tv/
“Met siang pak yunus, saya tyo dari global tv, bapak yang ngelola peternakan bebek? Kami ingin syuting di tempat bapak?”
Suara di seberang sana memulai percakapan dan saya pun seperti terkesima.
Tanpa banyak kata langsung mengiyakan, “Bisa”.
Bagi saya permintaan mereka adalah sebuah penghargaan bagi saya dan peternak yang saya naungi. Juga sebuah kepercayaan untuk mengangkat apa yang sudah kami lakukan. Dan pastinya promosi gratis untuk bisa dilihat banyak orang.
Singkat cerita, sabtu tanggal 26 Desember 2015, saya kedatangan tamu. Kedatangan pertama ini untuk survei lokasi. Lokasi mana saja yang bagus untuk pengambilan gambar. Hasilnya ada empat lokasi yang akan dijadikan tempat syuting.
Nah, saya bertanya ke mereka untuk program apa syuting di tempat saya? Ternyata saya keliru, saya kira dokumenter. Dengan baik hati mereka menjelaskan bahwa Global TV punya program baru, judulnya Turis Rempong. mereka juga mengatakan bahwa tempat saya adalah lokasi pertama dan syuting perdana. Walah, merasa terhormat sudah dipilih jadi yang pertamax.
Hari H
Akhirnya hari yang disepakati, senin, 28 Desember 2015 datang juga. Meski saya cukup kaget, mereka datang pagi sekali, jam tujuh pagi sudah stand by di sepatan. Saya kira jam delapanan mereka baru nyampe.
Langsung ke lokasi pertama, persawahan tak jauh dari balai desa Sukadiri. Wah yang nunggu sudah banyak, harap maklum sebelumnya tidak pernah ada syuting di sini. Sampai ibu-ibu lupa masak. Scene pertama ini ceritanya bule nyasar.

Lokasi kedua di kandang penampungan. Letaknya di desa pekayon, tidak jauh dari lokasi pertama. Sama seperti di lokasi pertama, penonton melimpah cuy. Lagi-lagi para ibu dan abg bereput selfie sama si bule. Di lokasi kedua ini, bulenya belajar cara merawat bebek.

Lokasi ketiga jaraknya lumayan jauh dari lokasi pertama, berada di kampung Pabuaran Ds. Mekar Kondang. Di tempat ketiga ini penontonnya jauh lebih membludak, bahkan ibu-ibunya sudah nunggu dari jam 1 siang, padahal crew datang jam 5 kurang dikit. Di lokasi ketiga ini, si bule belajar membuat telur asin.
Akhirnya lokasi terakhir, mengambil tempat di rumah paman saya. Berbeda dengan tempat-tempat sebelumnya, tidak ada penonton yang membludak, soalnya tempatnya berjarak dengan pemukiman, dan hanya keluarga besar saja yang hadir. Di lokasi ini, si bule belajar masak dengan bibi saya. Menunya hot: goreng bebek sambal nanas.
Dan syuting pun berakhir tepat jam 9 malam. Lama juga yah?
Oh yah, si bulenya belum dikenalin. Berikut foto si bule yang bikin emak-emak pada antusias dan gak mau ngalah sama abg-abg buat selfie

Namanya Ricardo biasa dipanggil Rico, aseli dari Belanda. Lima bulan sudah tinggal di Indonesia. Sayangnya sudah menikah…
Btw saksikan di Global TV hari selasa 19 Januari 2016, jamnya menyusul
sumber: https://penayunus.wordpress.com/2015/12/30/kedatangan-tamu-bule-dari-global-tv/
Selasa, 20 Oktober 2015
Kunjungan Tim Balitnak Ke Nurbarokah Ternak
Jumat 16 Oktober 2015 kelompok Nurbarokah kembali kedatangan tamu. Kali ini datang langsung dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi Bogor. Tim balitnak didampingi oleh petugas dari Distanak Banten untuk melakukan pengumpulan data tentang Itik Damiaking.
Itik Damiaking merupakan ternak itik lokal asal Banten. Meski demikian belum diakui secara resmi sebagi Sumber Daya Genetik (SDG) oleh Pemerintah Pusat. Kedatangan tim Balitnak adalah untuk mengumpulkan data tentang ternak yang satu ini agar dapat diusulkan menjadi SDG asli Banten.
Ada beberapa itik di kandang kami yang dijadikan sampel dan dikumpulkan datanya. Semoga membantu mereka yang datang jauh-jauh ketempat kami.
Kamis, 10 September 2015
Kunjungan ULP Provinsi Banten Ke Kandang Nurbarokah
Kunjungan ULP Provinsi Banten Ke Kandang Nurbarokah
Tangerang. (09/09/2015) pada hari Selasa, tertanggal 9 September 2015 kami dari Nurbarokah Ternak mendapatkan kunjungan lapangan dari panitia lelang ULP Provinsi Banten. Kunjungan dilakukan untuk melihat dan mengecek lapangan akan sumber bibit itik lokal petelur dari perusahaan pemenang tender. Perusahaan pemenang tender tersebut menjadikan kami sebagai penyedia itik lokal petelur dengan jumlah mencapai 3000 ekor.
Dalam suasana santai di temani irisan buah semangka, tim ULP Banten yang diwakili oleh bapak Irman itu melihat-lihat kandang pembesaran kami di Desa Pekayon. Ia tampak sumringah melihat skala usaha yang besar dan ketersediaan bibit yang lebih dan cukup.
Kami juga menjelaskan bahwa itik yang ada di Nurbarokah tervaksin AI dan bebas flu burung. Jumlah ketersediaan itik dan perkiraan waktu pengiriman itik ke kelompok penerima. Setelah dirasa cukup, ia pun pamit dan mendoakan usaha yang kami lakukan berkembang.
Rabu, 12 November 2014
Distanak Banten Anjurkan Masyarakat Kembangkan Ternak Itik
Serang
(AntaraBanten) - Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten
menganjurkan masyarakat daerah itu mengembangkan ternak itik atau bebek
karena prospek menjanjikan, permintaan tinggi dan tidak sulit
mengusahakannya.
"Belakangan
ini masyarakat Banten gemar mengonsumsi daging bebek sehingga tidak
heran kalau banyak rumah makan yang khusus menjual bebek goreng atau
sate bebek bermunculan dimana-mana," kata Kepala Bidang Produksi
Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Banten, H
Asep Nugraha di Serang, Selasa.
Asep
didampingi Kepala Seksi Pengembangan Produk Peternakan Saiful Bahri
mengatakan memelihara itik pedaging atau petelur tidak begitu sulit
dibandingkan memelihara ayam ras, karena pada umumnya itik tahan
terhadap penyakit dan tidak memerlukan kandang khusus.
Salah
satu jenis itik pedaging yang saat ini banyak diminati dan mulai
dikembangkan adalah itik serati atau tiktok, yang dihasilkan dari
perkawinan silang antara entok jantan dan itik petelur betina melalui
proses inseminasi buatan (IB).
Pemeliharaan
itik serati atau tiktok sebagai itik pedaging memiliki beberapa
keunggulan, yaitu cepat tumbuh sehingga bobot potong lebih besar,
tekstur daging lebih empuk dan tidak amis, serta kadar lemaknya rendah
yaitu hanya 1,5 persen. Selain itu, masa pemeliharaan juga relatif
pendek yaitu 8-10 minggu.
Ia
mengatakan itik serati atau tiktok relatif tahan terhadap penyakit,
karena daya adaptasinya lebih baik terhadap perubahan lingkungan.
Penyakit timbul sebagai akibat tidak berfungsinya faktor utama dengan
baik, yaitu sanitasi, biosecurity, manajemen serta perubahan lingkungan
terutama cuaca dan suhu.
Penyakit
utama itik pedaging hampir sama dengan jenis unggas lainnya, yaitu
"sallmonellosis" yang disebabkan bakteri "salmonella typhimurium" dan
entritidis botulismus yang disebabkan oleh bakteri "clostridium
botulinum, fowl cholera, fowl pox, influenza, avian chlamydiasis,
coccidiosis dan lainnya.
Pencegahan
penyakit itik pedaging, lanjut dia, dapat dilakukan melalui peningkatan
kebersihan dan sanitasi kandang yang baik, vaksinasi dan meningkatkan
kualitas pakan. Sedangkan yang sudah terserang dapat diberikan
antibiotik seperti sulfadimidin, furasolidine, tetramysin, spreptomycin,
oxytetrasiklin dan lainnya.
Selain
itik tiktok, jenis itik lain yang dapat dipelihara oleh peternak Banten
adalah itik jenis damiaking (itik petelur), itik duo (juga itik
petelur).
Asep
mengatakan populasi itik di Banten pada tahun 2013 mencapai 2,05 juta
ekor, sebagian besar berada di kabupaten Serang (1,4 juta ekor) dan
Kabupaten Tangerang (384.100 ekor), sedangkan itik manila berjumlah
409.700 ekor.
Jumlah
itu meningkat dibandingkan tahun 2012 yang hanya mencapai 1,7 juta
ekor, dan pada 2014 diprediksi akan mengalami peningkatan sebanyak 2,1
juta ekor.
Sementara
itu jumlah itik manila mengalami penurunan dibandingkan tahun 2012 yang
mencapai 761,600 ekor, dan pada 2014 diperkirakan naik sedikit menjadi
424.900 ekor dibandingkan tahun 2013.
sumber: http://banten.antaranews.com/berita/21709/distanak-banten-anjurkan-masyarakat-kembangkan-ternak-itik
sumber: http://banten.antaranews.com/berita/21709/distanak-banten-anjurkan-masyarakat-kembangkan-ternak-itik
Langganan:
Postingan (Atom)
